JAKARTA | KARAWANGSPORT,COM | Penyanyi dan YouTuber Ashanty kembali mencuri perhatian publik setelah mengungkap rutinitas kesehatannya melalui intermittent fasting (IF) ekstrem selama 120 jam. Dalam video YouTube yang diunggah pada 15 April 2025, istri musisi Anang Hermansyah itu menyebut bahwa puasa tersebut bukan untuk menurunkan berat badan, melainkan demi kejernihan pikiran saat belajar untuk ujian proposal doktoralnya di Universitas Airlangga.
“Minggu depan aku ujian proposal, jadi mau belajar dalam keadaan benar-benar nggak diganggu. Kalau fasting bikin aku jadi berpikir jernih,” ujar ibu dua anak ini.
Jalani Water Fasting Lima Hari
Ashanty memulai puasanya pada pukul 6 sore, hanya mengonsumsi cairan nol kalori seperti air putih, teh hijau tanpa gula, dan air garam (celtic salt) selama lima hari penuh. Sebelum memulai puasa, ia menyantap dada ayam panggang tinggi protein untuk menyuplai energi cadangan.
Selama puasa, ia mengonsumsi 2 liter air putih per hari, serta sekitar 500 ml air garam sebagai sumber elektrolit. “IF itu intinya tidak memasukkan kalori apa pun. Tapi elektrolit wajib. Aku pilih air garam karena bubuk elektrolit belum tentu nol kalori,” jelasnya.
Buka Puasa dengan Bertahap dan Herbal Tradisional
Pada hari kelima, Ashanty buka puasa pukul 12 siang dengan ramuan tradisional bernama uteng yang berisi lengkuas, kunyit, serai, jahe, dan ketumbar. Ia melanjutkan dengan minum kaldu tulang, alpukat, serta suplemen vitamin D3, K, dan omega-3. Untuk asupan probiotik, ia menambahkan acar lobak ke dalam menu.
Makan berat terdiri dari tumisan tahu, tempe, dada ayam cincang, dan tiga butir telur kukus. Ia juga mengonsumsi chia seed dengan cuka apel, lalu menikmati kopi hitam dengan minyak kelapa murni sebelum olahraga padel.
Puasa dan Autophagy
IF diketahui memicu proses biologis bernama autophagy, yakni mekanisme pembersihan dan perbaikan sel-sel tubuh. Autophagy aktif saat tubuh kekurangan asupan, seperti dalam kondisi puasa panjang, membantu memperbaiki sel rusak dan meningkatkan metabolisme.
Mengutip Mayo Clinic, aktivasi autophagy melalui puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan risiko diabetes tipe 2, dan memperpanjang umur sel. Namun, sebagian besar penelitian masih dilakukan pada hewan, sehingga diperlukan studi lebih lanjut pada manusia.
Ashanty mengingatkan bahwa puasa ekstrem seperti ini tidak boleh sembarangan dilakukan. Ia menyarankan agar siapa pun yang ingin mencobanya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter dan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh.
(Detik.com)
















